Jeff Sheldon

Sebagai bagian dari kemampuannya bertahan, makhluk hidup memiliki kemampuan untuk membedakan sesuatu. Tumbuhan dapat memilah apa yang perlu diserap dan tidak perlu, walau hal ini terjadi secara otomatis dan alami. Binatang, misalnya, dapat membedakan mana yang mengancam walau tidak dengan menggunakan indera dan nalurinya. Sementara manusia, sebagai makhluk hidup yang lebih kompleks, dapat menggunakan indera, naluri, maupun kemampuan berpikir dan pengalamannya untuk membedakan sesuatu.

Sayangnya, semakin kompleks kemampuan membedakan tersebut, terkadang malah hasil yang didapat jauh dari akurat. Pengalaman buruk dapat membuat seseorang tidak dapat menilai dengan baik. Orang yang pernah dirampok oleh orang dari suku/ras tertentu misalnya, bisa berpendapat bahwa semua manusia dari suku/ras tersebut adalah jahat. Bentukan sosial dan budaya serta keterbatasan pengetahuan juga dapat menghalangi seseorang memahami sesuatu yang berbeda dari kebiasaan yang ia kenal. Hal ini terjadi misalnya ketika orang dari Eropa datang ke Asia dan Afrika, lalu melihat cara hidup penduduk lokal dan menganggapnya barbar serta perlu ditobatkan. Sebaliknya, saat ini orang dari Asia atau Timur Tengah melihat cara hidup orang Barat di film-film dan menganggapnya terlalu bebas dan liar.

Upaya membedakan perlu supaya kita dapat mengenali mana yang berbahaya dan yang tidak. Namun upaya tersebut perlu dipahami sebagai sebuah pendekatan di awal untuk berkenalan, bukan penghakiman harga mati yang tidak dapat diubah kalau salah. Perlu diingat bahwa kemampuan kita mengenali dan memahami terbatas, dan dalam kaitannya dengan relasi antar manusia, setiap orang berproses dan berubah. Kita sedang berproses dan bisa berubah, orang lain pun demikian.

Ingat kisah Saulus sebelum menjadi Paulus? Ia sangat yakin dengan cara pandangnya terhadap dunia dan kehidupan. Ia sangat yakin bahwa sebagai bangsa pilihan, ia harus melakukan segala hal untuk menjaga kemurnian ajaran dan bangsanya dari pencemaran iman akibat ajaran tentang Kristus yang bangkit. Namun dalam perjalanan hidupnya, Saulus disadarkan bahwa ia salah, dan apa yang ia benci terbukti menjadi kebenaran yang ia pegang sampai matinya.

Bagaimana kalau kita saat ini tengah menjadi Saulus? Salah memahami seseorang atau sekelompok orang, merasa benar sendiri, dan bahkan membenci serta memusuhi mereka, padahal ternyata kita yang salah. Atau bagaimana kalau orang yang sedang memusuhi kita tengah menjadi Saulus? Bisa jadi ia hanya belum selesai berproses dalam menemukan kebenaran, sehingga kita tidak perlu ikut memusuhinya. Bukankah kita semua masih berproses dalam kehidupan ini?

Saya teringat pada sebuah diskusi di dunia maya yang saya ikuti tentang agama dan atheism. Ada seorang mantan Katolik yang sangat marah karena ia telah dibaptis ketika bayi. Ia katakan bahwa ia merasa terlecehkan karena tanpa persetujuannya ia telah selamanya terikat dengan suatu janji suci untuk hidup dalam pimpinan tangan Tuhan (walau ia tidak mengakui keberadaan Tuhan). Yang menarik untuk saya adalah kemarahannya ini menunjukkan bahwa sesungguhnya ia menganggap penting makna janji baptis yang dilakukan oleh orang tuanya itu, bahkan mungkin lebih serius daripada orang yang masih Kristen dan tidak pernah menggubris makna janji baptisnya saat anak-anak atau saat dewasa. Jadi apakah benar ia seorang atheis? Saya ragu. Kemungkinan ia adalah seorang manusia yang tengah mencari kebenaran. Tapi saya tahu saya tidak bisa berbicara untuk dia, karena saya tidak tahu pasti jalan hidupnya kemarin dan besok. Tapi demikianlah manusia, terkadang kita masih gagal untuk mengenali diri kita sendiri, tapi sudah sangat yakin dengan apa yang menjadi label untuk orang lain.

Seandainya kita bisa belajar untuk hidup tanpa sekat, belajar untuk mengenali diri sendiri dan orang lain dengan jujur dan rendah hati, kita akan menemukan bahwa di dalam diri setiap manusia terkandung harapan untuk suatu potensi kebaikan. Lagipula, satu-satunya yang bisa dengan pasti kita kenali saat kita menilai dan menyekat orang lain adalah diri kita sendiri: dengan apa kita membedakan dan mengkategorikan manusia lain.

© 2015 GKI Surya Utama
Top
Follow us: