Dunia akan menyempit jika dipagari oleh konsep-konsep ideal kita tentangnya. Pengalaman persentuhan langsung dengan kenyataan apa adanya akan mengajarkan kita begitu banyak hal yang tak terbayangkan sebelumnya.

Kita masing-masing cenderung berpikir bahwa kita melihat segala sesuatu sebagaimana adanya (objektif). Namun kenyataannya tidak demikian. Kita melihat dunia sebagaimana kita adanya, atau sebagaimana kita terkondisikan untuk melihatnya. Bila sudut pandang kita luas, maka cakrawala kita pun luas. Bila cara pandang kita sempit, maka cakrawala kita pun sempit.  Bila kita hanya terpaku pada satu teori, maka kita mudah menolak teori lainnya. Bila kita terpaku pada satu opini, maka sulit bagi kita untuk membuka ruang opini bagi yang lain. Karena konsep-konsep cenderung membatasi. Membatasi berarti merusak. Konsep-konsep itu membedah kenyataan. Dan apa yang membedah itu akhirnya membunuh realitas.

Pada bacaan-bacaan kita hari ini, kita akan melihat bahwa Allah ingin manusia menjalani kehidupannya dengan berpijak pada kenyataan, sehingga manusia bisa dituntun masuk ke “tempat yang baru” dan mengalami pertumbuhan.

Bacaan I

Mazmur Tanggapan

Bacaan II

Bacaan III

: Kejadian 32:22-31

: Mazmur 121

: 2 Timotius 3:14-4:5

: Lukas 18:1-8

Lukas 18:1-8

Yesus menceritakan kepada murid-murid-Nya tentang seorang janda di suatu kota. Janda itu berhadapan dengan seseorang yang melawan dia dan tidak ada seorang pun yang mendukungnya kecuali seorang hakim yang tidak adil (biasanya hakim sipil pada masa itu berasal dari bangsa non Yahudi). Musuhnya pun tidak muncul di pengadilan, yang menunjukkan bahwa masalah ini adalah masalah uang. Dia tidak mampu membayar jasa seorang pengacara. Karena itu dia langsung pergi kepada hakim dan mengharapkan hakim tersebut menjadi pengacara, sekaligus menjadi hakimnya. Sebagai seorang janda, dia merupakan gambaran dari sifat yang mudah diserang. Satu-satunya jalan baginya adalah membawa kasusnya kepada hakim itu dengan permohonan, “Belalah hakku terhadap lawanku.” Frasa “belalah hakku” merupakan bahasa hukum dan benar-benar berarti “terimalah perkaraku,” atau “bantulah aku untuk mendapatkan keadilan.” Janda itu menyebabkan sang hakim merasa gelisah, sehingga dia berbicara kepada dirinya sendiri dan berkata, “Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku!” Hakim  yang “tak takut Tuhan” itu menyelesaikan kasus Si Janda karena merasa terganggu karena Si Janda harus memohon sedemikian rupa secara berulang-ulang. Hakim itu mendengarkan janda tersebut dengan alasan yang salah: supaya bisa lepas dari janda itu.

Berbeda dengan sang hakim, Allah mendengarkan umat-Nya karena Dia mencintai mereka. Hakim itu bertindak dengan mengingat kepentingannya sendiri; Allah bertindak demi kepentingan umat-Nya. Allah juga tak mengulur-ngulur waktu sambil menunggu umat-Nya mengemis pertolongan pada-Nya. Akan tetapi apakah umat Allah menghargai cinta dan tindakan Allah itu? Dalam konteks demikianlah Lukas mengajukan pertanyaan retoris kepada pembacanya, “… Akan tetapi jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapai iman di bumi?”

Jika dicermati, perumpamaan ini menyatukan dua gagasan yang berbeda. Pertama, gagasan tentang doa tak jemu-jemu sebagaimana yang diungkap oleh narrator pada 18:1, “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.” Agaknya, janda yang gigih itu merupakan gambaran dari gereja. Pengikut-pengikut Yesus ditindas di dunia ini, dan mereka tidak mempunyai tempat untuk mengadu, kecuali kepada Allah.  Kedua,  dengan menggunakan perumpamaan ini, Yesus mendesak pengikut-pengikut-Nya untuk tetap setia meskipun kedatangan-Nya kembali membutuhkan penantian yang penuh kesabaran.

Kejadian 32:22-31

Sejatinya, pergumulan Yakub di sungai Yabok adalah pergumulan melawan konsep hidup yang dikuasai ketakutan dan kecemasan. Sumber ketakutan dan kecemasannya adalah perasaan bersalah Yakub terhadap Esau, kakaknya yang telah ia khinati. Yakub juga mengalami beberapa tahap hidup yang mengubah paradigmanya tentang kebahagiaan. Pada periode hidup sebelumnya, ia berpikir bahwa letak kebahagiannya ada pada hak kesulungan, sehingga dengan segala cara ia merebut berkat dari mulut Ishak – ayahnya– yang diperuntukkan bagi sang kakak.  Setelah itu, ia menganggap kebahagiaan adalah jika mampu mempersunting Rahel, yang kepadanya Yakub sedemikian jatuh cinta, hingga mau melakukan apa saja, termasuk membiarkan diri tunduk dalam hasrat manipulatif Laban, pamannya. Namun setelah semuanya didapat, Yakub justru tetap tak bahagia. Ia telah begitu kaya, mempunyai empat orang istri, salah satunya adalah sosok Rahel yang begitu Yakub inginkan, mempunyai banyak pegawai, mempunyai banyak anak, tetapi pada akhirnya Yakub sadar bahwa rekonsilisiasi dengan Esau adalah kebahagiaan yang ia butuhkan.

Hanya saja, untuk menjumpai saudaranya yang ”kembar tetapi berbeda” itu, Yakub harus berperang melawan ketakutan dan kecemasannya. Ia menyangka bahwa Esau akan murka, akan membalaskan dendam kepadanya, sehingga mengatur sedekian rupa ”miliknya” untuk dipersembahkan kepada Esau.

Laga Pergulatan di Sungai Yabok disediakan oleh Allah untuk mengubah paradigma Yakub, dari dikuasai kecemasan menjadi dipimpin oleh iman. Di sungai Yabok, Yakub diubahkan dari seorang paranoid akibat terlalu sering menjalani hidup dengan pikirannya sendiri, menjadi seorang yang pasrah-berserah dan mengandalkan tuntunan Allah. Ketika Yakub beroleh keberanian untuk menghadapi kenyataan tanpa takut, pada saat itulah sejatinya Yakub telah menang. Oleh karena itu, dalam Kej. 32:30 Yakub mengekspresikan ”penemuan hakikat hidupnya” dengan perkataan, “Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!” Ia telah melampaui dirinya sendiri dan siap dibawa oleh Tuhan menyongsong kenyataan baru yang tak terjangkau oleh pikirannya sebelumnya. Toh ternyata (jika kita melanjutkan pembacaan ada perikop sesudah itu) semua yang dipikirkan dan ditakutkan oleh Yakub itu salah total. Alih-alih murka, merampas dan membunuh semua yang ada pada Yakub, Esau justru merangkul dan menyambut Yakub.

Sejatinya jika berbagai cita-cita dan ambisi telah kita raih, hidup tak sebahagia yang kita bayangkan. Sebaliknya di sisi lain, hidup juga tak semenakutkan yang kita pikirkan.

Mazmur 121

Ada banyak perspektif yang berbeda tentang gunung. Para pendaki melihat gunung sebagai tantangan yang harus ditaklukkan, sekaligus ada banyak keindahan yang bisa dinikmati di sepanjang perjalanan pendakian. Namun di benak  banyak orang, gunung juga menyimpan berbagai misteri dan teror. Jangankan untuk mendaki, mendekat pada gunung saja banyak orang sudah enggan. Nampaknya konteks pemahaman Israel tentang gunung juga demikian.

Sebagai nyanyian ziarah, Mazmur 121 mengungkap bahwa TUHAN adalah Sang penolong dan penjaga umatnya. Sampai sekarang, di sekitar Yerusalem terdapat pegunungan yang masih sangat sepi penduduk. Sejauh mata memandang, hanya ada padang cadas dan bukit-bukit batu yang menghimpit jalan raya. Bisa jadi, pada zaman itu wilayah pegunungan – yang merupakan rute pulang para peziarah  – menjadi wilayah yang sangat rawan dan berbahaya. Ancaman bisa datang dari para perompak, binatang-binatang buas atau pun cuaca yang ekstrim. Belum lagi gunung-gunung biasanya dipercaya sebagai tempat keramat untuk menyembah para dewa. Dalam keadaan demikian, ada keyakinan dari para peziarah bahwa TUHAN lebih besar dan berkuasa dari segala ancaman ketandusan dan kejahatan yang ada di gunung-gunung itu.

Keyakinan akan kebesaran dan kebaikan Tuhan, membuat para peziarah Israel mampu melampui konsep mereka tentang gunung yang sedemikian menakutkan. Kegentaran mereka justru terkonversi menjadi kesediaan iman untuk melewati gunung-gunung dengan rasa aman. Sebab TUHAN adalah yang menjadikan langit dan bumi (ay.2). Ialah yang menjadikan kehidupan, karena itu segala persoalan yang ada dalam kehidupan tentu ada di dalam kontrol TUHAN. Allah juga digambarkan sebagai Penjaga yang tidak pernah terlelap (ay. 3). Tentu saja di dunia ini tidak ada penjaga yang tidak pernah terlelap. Bahkan seorang ibu yang menjaga anak kesayangannya pun bisa tertidur lelap dalam kelelahannya. Dengan kasih dan kekuatan Allah itulah pemazmur memiliki hati yang mantap dalam mengarungi perziarahan fisik ataupun perziarahan hidupnya. Tuhan memang tidak memindahkan gunung dan segala bahaya yang dilalui oleh sang Peziarah, namun Ia memampukan para peziarah kehidupan untuk melewati gunung-gunung itu.

2 Timotius 3:14 – 4:5

“Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telingannya dari kebenaran dan membukannya bagi dongeng.”

Mengapa orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, dan lebih suka memanggil para pengajar yang memuaskan keinginan telinga mereka? Sebab di dalam pikiran mereka sudah bercokol konsep mereka sendiri tentang kebenaran. Bahkan orang-orang semacam ini sudah merasa tahu sebelum membaca, dan telah merasa mengerti sebelum mendengar. Paulus mengingatkan Timotius bahwa ia akan berhadapan dengan orang-orang yang demikian. Akan datang masa-masa sulit yang membuat manusia menjadi gelap mata. Ada saja orang-orang yang menjadi gila harta, suka mencari nafkah dengan menipu, bermunculan manusia-manusia arogan, rela sikut sana-sini, kurang ajar terhadap orang tua, berkhianat terhadap sesama, dsb. supaya selamat dari keadaan sukar. Kesulitan hidup dan adsurbditas teologi bahwa bersama Tuhan tidak ada kesukaran telah begitu membingungkan jemaat. Ajaran yang demikian bermuara pada dua kutub, yakni ketertutupan absolut terhadap dunia – dunia dianggap sempenuhnya jahat dan karenanya tak perlu diberi ruang, atau sebaliknya orang jadi sangat konformis, terhanyut dalam rupa-rupa kegilaan dunia.

Sikap orang-orang itu jelas berbeda dengan Paulus. Ia pernah menghadapi berbagai penganiayaan, namun Allah menolongnya untuk melewati masa-masa sulit itu (3:11). Paulus menambahkan, bahwa pada dasarnya setiap orang yang  hidup di dalam Kristus akan sering diperhadapkan pada kesukaran dan aniaya (3:12). Dalam konteks hidup yang demikian Paulus menasehati Timotius agar meneladani dirinya agar tahan uji (hupomone : berani menghadapi kesulitan dan tetap menghasilkan kebaikan) seperti dirinya. Paulus menekankan pentingnya membuka telinga dan pikiran bagi kebenaran lalu menerapkannya dalam kehidupan. Kematangan kebenaran tidak teruji ketika hanya menjadi sebuah konsep – yang terasing dari kenyataan. Justru sebaliknya, kebenaran menjadi akan makin sempurna jika tersintesis dengan kehidupan nyata. Mengikut Tuhan dalam fakta, bukan dalam konsep. Bahkan lebih baik menderita bersama kebenaran Tuhan daripada harus menghirup udara keberuntungan dalam kemerosotan moral orang-orang pengkhianat kebenaran.

Ada perbedaan berarti antara ”memegang” Kitab Suci dan ”berpegang” pada Kitab Suci. Mereka yang hanya ’memegang’ biasanya akan jatuh dalam budaya legatistik. Menggunakan kata-kata firman sebagai pedang untuk membunuh pihak lain, dan tidak pernah sedikitpun mengiris borok pribadinya. Mereka yang hanya ’memegang’ Kitab Suci hanya menggunakan firman pada saat yang tepat dan menguntungkan. Mereka yang hanya ’memegang’ Kitab Suci akan cenderung memilah dan mencari berita-berita yang menyukakan hati dan memuaskan keinginannya saja. Dengan situasi yang demikian, Paulus menantang Timotius untuk bukan hanya ’berpegang’ pada firman, namun juga memberitakan firman itu dalam segala situasi dengan tetap sabar dan menguasai diri (4:1-5). Dengan berpegang dan memberitakan Firman dalam kesukaran, kita akan diajar untuk mengalami persentuhan dengan kenyataan hidup yang melahirkan hikmat sempurna.

Ditulis oleh : Pdt. Andri Purnawan

GKI Darmo Satelit Surabaya
© 2015 GKI Surya Utama
Top
Follow us: