Sebuah pohon yang tetap hijau sepanjang musim, berhiaskan lampu kelap-kelip, gantungan cerah nan mengkilat, dan bermahkotakan bintang besar pada pucuk tertingginya. Ya, itulah Pohon Terang atau Pohon Natal, salah satu simbol paling populer dan ikonik terkait perayaan Natal. Dewasa ini rasanya kurang jika momen Natal hadir tanpa adanya Pohon Terang. Oleh karena kehadirannya yang cukup signifikan itu, maka alangkah baiknya jika kita mengenal seluk-beluk seputar Pohon Natal sedikit lebih dalam.

Ada beragam kisah dan legenda seputar asal-usul Pohon Natal. Beberapa nama tokoh seperti Martin Luther atau Santo Bonifasius disematkan sebagai penggagas tradisi itu. Kisah yang lain menunjuk kepada keluarga penebang kayu yang dikunjungi Yesus yang menyamar sebagai seorang anak miskin yang tersesat. Meski terdapat bermacam versi cerita namun tradisi Pohon Natal berkembang di Jerman barat, di kalangan umat Protestan, kurang lebih sekitar abad ke 16. Dari sana kemudian tradisi ini menyebar ke seantero daratan Eropa sampai ke Amerika Serikat dan juga ke seluruh dunia. Di Indonesia kemungkinan tradisi ini dibawa oleh Zending dari Belanda.

Untuk Pohon Natal biasanya digunakan pohon cemara. Karena tradisi Pohon Natal dimulai di Barat yang mengenal 4 musim, konon katanya pohon cemara adalah pohon yang daun-daunnya senantiasa hijau di sepanjang musim, bahkan selama musim dingin sehingga dinamai evergreen tree. Oleh karena itu pohon cemara dipilih sebagai Pohon Natal untuk menyimbolkan kasih Allah yang senantiasa hadir dan tak berkesudahan di segala musim (segala situasi dan kondisi kehidupan).

Tahukah anda bahwa dahulu orang memasang lilin di Pohon Natal? Lilin dipakai untuk melambangkan terang Allah atau terang Kristus yang hadir ke dunia. Tentu pemakaian lilin itu memiliki banyak keterbatasan. Sulit dipasang di pohon, tidak bisa dinyalakan lama-lama, dan harus diawasi agar tidak menyebabkan kebakaran (yang kadang tetap terjadi juga). Untunglah kemudian hadir listrik dan lampu pijar yang kemudian menggantikan fungsi dan peran lilin sebagai lambang terang Kristus pada Pohon Natal.

Salah satu simbol lain yang cukup penting adalah bintang di pucuk pohon. Ini juga merupakan simbol pengganti. Pada mulanya orang menempatkan patung bayi Yesus di pucuk pohon. Fungsinya jelas, mengingatkan umat kepada kelahiran Yesus. Namun seiring berjalannya waktu, tradisi ini mulai ditinggalkan. Mungkin ada rasa sungkan dan risih juga melihat bayi digantungkan di puncak pohon. Sebagai penggantinya, orang kemudian meletakkan malaikat (yang memberitakan kelahiran Yesus kepada gembala) atau simbol yang kemudian lebih populer adalah bintang (yang menyatakan kelahiran Yesus kepada orang-orang Majus).

Kapan waktu yang tepat untuk memasang pohon Natal? Jika mempertimbangkan susunan liturgis rasanya lebih pas pada hari Natal sampai pada Epifani. Mengapa demikian? Jika kita mengingat tulisan minggu lalu mengenai Adven, kita pasti mengingat bahwa masa Adven adalah masa penantian. Oleh karena itu Pohon Natal yang melambangkan Yesus Kristus yang lahir di dunia lebih cocok hadir dalam segala kemeriahan dan sukacitanya pada perayaan Natal itu sendiri. Ada juga yang mulai memasang pohon Natal pada adven pertama tanpa hiasan (polos) kemudian baru memberikan hiasan untuk Malam Natal. Ada juga yang mulai menambahkan hiasan pada adven ketiga (terkait dengan lilin pink, lambang sukacita) namun baru mulai menyalakan lampu-lampu hiasan pada Hari Natal.

Meskipun ada beragam cara namun kiranya itu tidak menghalangi kita untuk senantiasa berfokus pada makna Natal itu sendiri. Remember the reason for the season.

© 2015 GKI Surya Utama
Top
Follow us: