05_May_2nd

Siapa yang akan menolak bila dirinya didoakan oleh orang lain? Bukan hanya dengan didoakan, kita mendapatkan perhatian dari orang lain, tetapi juga karena doa tersebut adalah kekuatan Allah untuk menyertai kehidupan kita. Namun sebaliknya, tidak banyak orang punya perhatian untuk mendoakan orang lain. Apalagi terpanggil untuk menjadi pendoa-pendoa syafaat seperti dalam persekutuan Doa Pagi di GKI Surya Utama.

Hal ini mungkin bisa terjadi karena kita kurang memahami pentingnya doa syafaat dan panggilan sebagai pendoa-pendoa syafaat . Perlu kita ketahui dahulu, doa syafaat berarti berdoa bukan terkait kebutuhan kita pribadi, namun mencakup kebutuhan orang lain atau kebutuhan yang lebih luas, seperti: lingkungan, gereja, negara bahkan situasi dunia. Pendoa syafaat adalah seseorang yang datang mendekat dan berdoa di hadapan Allah untuk menggantikan posisi orang lain.

Walaupun menjadi pendoa-pendoa syafaat sering dilupakan oleh orang karena perannya di belakang layar namun seorang pendoa syafaat sebenarnya adalah kawan sekerja Allah. Tuhan ingin bekerja sama dengan kita untuk mencapai tujuan-Nya agar setiap manusia bahkan dunia ini dapat diselamatkan (bdk.Yoh 3:16). Karena itu bukankah menjadi pendoa-pendoa syafaat adalah tugas yang mulia?

Terlebih lagi, Tuhan Yesus yang menjadi teladan kita adalah juga pendoa syafaat sejati. Dalam Injil Yohanes, tertera doa syafaat Tuhan Yesus untuk murid-muridNya (orang-orang percaya) sebelum Ia terpisah dari dunia ini (bdk. Yoh 17). Ia pun juga pernah mendoakan Simon Petrus , “…..Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur…. ” (Luk 22:32).. Demikian juga tokoh-tokoh dalam Alkitab, seperti Abraham, Musa, Paulus juga bersyafaat untuk keselamatan umat Allah.

Untuk itu, agar menunjang tugas panggilan kita sebagai pendoa-pendoa syafaat dengan karakter yang baik, apa ada hal-hal yang perlu diperhatikan?

Pertama, seorang pendoa syafaat yang baik harus pro-aktif dalam mencari informasi doa yang jelas. Jangan berdoa dengan informasi yang tidak jelas, apalagi salah mendoakan. Misalnya, mendoakan orang sakit, padahal yang bersangkutan sudah meninggal. Hal itu akan memperlihatkan kita tidak memiliki perhatian dan kesungguhan di dalam berdoa.

Kedua, seorang pendoa syafaat yang baik memiliki empati terhadap orang yang didoakan. Rasa empati, ikut memiliki, ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain dapat mendorong seseorang untuk bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan hati.

Ketiga, seorang pendoa syafaat, adalah seorang yang rendah hati. Artinya, ia tidak merasa dirinya adalah orang yang lebih baik hidupnya dari orang-orang yang didoakan. Ada pemahaman yang keliru bahwa bila orang didoakan atau datang ke sebuah persekutuan doa, dianggap orang yang memiliki beban persoalan dari yang lain. Padahal datang ke persekutuan doa, justru dapat menjadi pendoa-pendoa syafaat sebagai tugas mulia.

Keempat, seorang pendoa syafaat memiliki konsep doa yang benar. Berdoa dengan menaikan permohonan kepada Tuhan bukan seperti menyodorkan shopping list yang panjang kepada Tuhan untuk dikabulkan. Tetapi tetap menyerahkan segala permohonan kita di dalam kehendak Allah yang terbaik bagi kehidupan kita.

Kelima, seorang pendoa syafaat yang baik siap untuk menjadi jawaban atas doanya sendiri jika Tuhan menghendakinya. Artinya seorang pendoa syafaat bukan saja terpanggil untuk mendoakan orang lain atau pihak lain tetapi juga melaksanakan apa yang didoakan bila Tuhan menghendaki akan hal itu.

Karena itu, tunggu apalagi! Mari bergabung menjadi pendoa-pendoa syafaat.

© 2015 GKI Surya Utama
Top
Follow us: