Paduan Suara tidak pernah bisa dilepaskan dari kehidupan bergereja. Rata-rata setiap jemaat (gereja lokal) memiliki kelompok paduan suara, minimal ada satu kelompok paduan suara. Jika memang tidak memiliki kelompok paduan suara, setidaknya untuk acara-acara tertentu akan dibentuk paduan suara ‘dadakan’.

Anggota yang tergabung dalam paduan suara gereja, tentu saja adalah orang-orang yang suka bernyanyi, terlepas mereka menguasai teori musik atau tidak. Paduan suara biasanya akan berlatih secara konsisten seminggu sekali atau pada waktu yang telah disepakati bersama.  Ada kelompok yang anggotanya berlomba-lomba menjadi penyanyi terbaik, namun ada pula paduan suara yang anggotanya hanya sekedar ingin bernyanyi.

Dalam paduan suara, biasanya setiap anggota akan memiliki tempatnya tersendiri. Pelatih akan melihat jenis suara setiap anggota dan mengelompokkannya dalam kelompok tertentu; Sopran, Alto, Tenor, Bass, dan seterusnya. Suara anggota kelompok paduan suara ini dikelompokkan bukan karena tinggi atau rendahnya nada yang mampu mereka capai, melainkan karena warna suara yang mereka miliki. Bisa saja, seorang alto memiliki jangkauan nada yang sangat luas, melebihi sopran.

Setiap kelompok suara dalam paduan suara akan menyanyikan bagiannya masing-masing  yang seringkali berbeda satu dengan lainnya. Kekompakan dalam setiap kelompok suara harus selalu dimunculkan, sehingga hanya satu warna suara yang terdengar. Pendengar tidak akan lagi mendengar suara si A atau si B. Dalam kondisi ini, mendengarkan menjadi hal yang penting dalam berpaduan suara. Hanya saja, ketrampilan mendengarkan yang dimiliki oleh anggota paduan suara memiliki tingkatan yang lebih sulit. Ketika kita mau mendengarkan, maka kita harus berdiam diri. Bukankah hal itu yang seharusnya terjadi? Tetapi hal ini tidak berlaku begitu saja dalam paduan suara. Anggota paduan suara harus mendengarkan dan menyuarakan suara mereka dalam saat yang bersamaan. Terlebih lagi, jika ada instrumen musik yang mengiringi lagu yang mereka bawakan.

Demikian pula dalam kehidupan secara umum. Kita, bersama-sama dengan semesta menyanyikan lagu kehidupan, yaitu lagu karya kasih-Nya. Allah telah menempatkan kita pada bagian kita masing-masing. Dalam segala bentuk perbedaan, kelemahan dan kekuatan kita, kita bernyanyi bersama. Dalam tuntunan-Nya, kita dimampukan menyanyi dalam sebuah harmonisasi yang terkadang sangat sulit untuk dinyanyikan, bahkan untuk didengarkan. Namun dalam tuntunan Allah juga, kita senantiasa akan terus dimampukan untuk  memiliki kepekaan terhadap suara-Nya. Dalam iman yang teguh, kita akan dimantapkan menyanyikan karya Kasih-Nya bagi dunia. Sebagai penyanyi dalam paduan suara-Nya, marilah kita mengambil waktu untuk mendengar suara-Nya seraya kita menyanyikan karya Kasih-Nya.

© 2015 GKI Surya Utama
Top
Follow us: