… Kata mereka diriku slalu dimanja, kata mereka diriku slalu ditimang… tangan halus dan suci tlah mengangkat diri ini, jiwa raga dan seluruh hidup rela dia berikan. Oh bunda, ada dan tiada dirimu kan ada di dalam hatiku . Inilah sepenggal syair dari lirik lagu Bunda yang sangat familiar di telinga kita. Begitu apik sang pencipta lagu: Melly Guslow, menggambarkan keagungan kasih ibunya. Dan setiap kali mendengar lagu ini kita seakan dibawa pada kenangan manis sekaligus mengharukan akan pengorbanan ibu yang telah merawat dan membesarkan kita. Memang kisah tentang ibu seakan tak habis-habis untuk diceritakan. Melalui teladan kasih seorang ibu kepada anaknya, kita bisa belajar bagaimana kasih yang berkorban itu. Yaitu mengasihi orang lain melebihi kepentingan diri kita sendiri. Namun sayangnya, egosentrisme yang berbuahkan egoisme atau kepentingan diri sendiri di zaman sekarang ini cenderung mewarnai pola hidup kita. Uang, harta dan kesenangan diri menjadi prioritas yang dikejar demi kepuasan diri sendiri. Nilai-nilai pengorbanan jadi hanya enak untuk dibicarakan, didiskusikan, diseminarkan, dinyanyikan, ditonton, dipuisikan, dsb. Tapi untuk dilakukan …? Ya …, nanti dulu deh! Coba teropong apa yang terjadi setiap hari dalam kehidupan keluarga kita. Adakah setiap orang dalam keluarga menghayati nilai pengorbanan diri ini? Atau jangan-jangan kita sudah terjebak hidup dalam dunia kepentingan dan kesenangan kita masing-masing. Yang satu begitu sibuk dan pulang larut malam terus, yang lain sibuk berinternet, yang lain lagi ngerumpi atau ber-sms berjam-jam dengan HP-nya, dsb. Dan kalau sudah begini, masih adakah dari setiap orang itu punya kemauan untuk berkorban tenaga alias mau cape, berkorban waktu, berkorban keinginan pribadinya, kesenangan pribadinya, dsb.? Untuk hal ini kita bisa bertanya pada diri kita masing-masing. Tapi yang pasti, kalau hal ini terjadi kita akan kehilangan hal yang berharga, yaitu keharmonisan hidup berkeluarga. Suasana dimana setiap orang dalam keluarga selalu merindukan untuk berkumpul dan bercengkrama bersama dalam tawa, tangis, keharuan, dsb. Senang dan susah dialami dan dihadapi bersama-sama. Namun kehadiran seorang ibu sesungguhnya membuktikan bahwa manusia mampu mengasihi dengan mengorbankan dirinya. Dan itu disaksikan oleh Paulus di dalam I Tesalonika 2:18: Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi (ITes 2:-8). Walau di sini Paulus memakai gambaran sosok ibu bukan dalam konteks keluarga, melainkan jemaat, namun kita bisa belajar bahwa nilai pengorbanan itu begitu penting dan berharga bagi Paulus. Karena justru melalui pengorbanan dirinya, Injil Allah itu tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tidak hanya Paulus, Musa pun membuktikan hal itu. Sebagai seorang pemimpin, Musa setia mengabdikan hidupnya selama empat puluh tahun lamanya mendampingi umat Israel dalam pengembaraan di padang gurun. Tentu dengan pergulatan hidup yang sangat berat. Namun,tohsetelah hampir sampai di garis akhir dari perjalanan pengembaraan yang panjang itu, Musa tutup usia. Ia hanya bisa melihat dari jauh tanah perjanjian itu, tapi tidak bisa menikmatinya. Inilah bentuk pengorbanan Musa bagi umat Allah yang dipercayakan Tuhan kepadanya.Dengan demikian, Musa telah menjadi ibu bagi sesamanya.

© 2015 GKI Surya Utama
Top
Follow us: