Kata reformasi bukanlah istilah yang baru dikenal pada setelah peristiwa 1998 di Indonesia. Istilah tersebut malah tak asing bagi gereja sejak ratusan tahun sebelumnya. Akhir-akhir ini, banyak pihak yang menggunakan kembali kata reformasi tersebut. Namun, kata ini seringkali dipahami bukan dalam konteks hidup bergereja.Bagaimana pengertian gereja sendiri dalam memahami reformasi, itulah yang akan menjadi bahasan berikut ini.

Kata reformasi berasal dari reformatio (Lat.), yang artinya pergantian rupa, pembaruan. Kata formatio adalah pembentukan atau pendidikan, dan forma adalah rupa, bentuk, wujud, atau sosok.Kata re mengartikan akan membarui atau mengubah bentuk kembali atau membentuk kembali. Menilik kata-kata tersebut, maksud reformasi adalah pembaruan wujud atau pembaruan bentuk. Bukan hanya isi, melainkan wujudnya juga.

Para Reformator gereja pada akhir Abad-abad Pertengahan juga menyoroti dan kemudian mereformasi struktur gereja yang hierarkis, legalistik, dan liturgis.Gerakan Reformasi merambah banyak negeri di Eropa Barat, termasuk Skandinavia, dan Skotlandia pada abad ke-16 dan ke-17 itu. Misalnya, Martin Luther di Jerman menolak sepenuhnya kuasa Paus untuk mengampuni dosa atau kesalahan. Paus berkuasa, namun kuasanya dibatasi oleh peraturan gereja, karya Roh Kudus, dan kuasa Allah.Johannes Calvin di Jenewa-Swiss dan Strasbourg-Perancis meneruskan pekerjaan William Farel, pendahulunya.Calvin menuliskan dan menerbitkan buku Institutio (pengajaran) sebagai pegangan hidup bergereja. Buku itu mencakup seluruh pandangan Calvin tentang Allah Tritunggal dan karya-Nya, dan hal-hal praktis sekitar jabatan gerejawi, pemerintahan gereja, dan liturgi. Walaupun tulisan dan pokok-pokok pemikiran Calvin bukan hanya Institutio ini, namun buku ini masih menjadi pegangan bagi para penerusnya menggunakannya sebagai salah satu acuan penting, baik sebagai penelitian maupun hidup bergereja.

Martin Luther di Jerman, Martin Bucer dan Johannes Calvin di Perancis dan Swiss, dan Ulrich Zwingli di Swiss, digolongkan oleh para sarjana sejarah gereja sebagai reformator awal dalam gerakan reformasi. Walau sebenarnya bukan hanya mereka saja, tapi ada banyak nama lain yang terlibat dalam gerakan reformasi awal. Julukan tersebut baru dikenakan setelah munculnya gerakan reformasi radikal.

Gerakan reformasi tak melulu meninggalkan kesan baik bagi sejarah dunia. Beberapa pendukung gerakan reformasi menganggap para reformator awal bekerja lambat. Maka, beberapa orang yang kemudian dijuluki penggerak reformasi radikal mengadakan gerakan lebih dalam. Andreas Karlstadt dari Wittenberg-Jerman dan pengikutnya, misalnya, mereformasi gereja dengan menghancurkan patung, salib, dan altar. Gerakan keras itu, sangat tak tepat disebut radikal memang, terjadi masih pada abad ke-16. Perjamuan, contoh lain, dianjurkan dapat dipimpin oleh imam tanpa jubah liturgi. Imam cukup mengenakan pakaian sesehari ketika memimpin perjamuan.

Berbeda dengan reformasi awal, gereja reformasi radikal ini tak banyak mendapat dukungan. Bahkan, para reformator awal pun tak setuju dengan gerakan yang jauh dari semangat ecclesia reformata semper reformanda secundum verbum Dei (gereja reformasi selalu membarui diri sesuai firman Allah) ini. Luther, Calvin, dan Zwingli mengecam gerakan keras ini. Hanya, dampak kelam dari gerakan ini tetap terasa hingga kini. Beberapa di antara kaum yang berada pada alur reformasi radikal itu eksis dan berkembang saat ini. Namun dalam wujud gereja masa kini, tentu gerakan dan semangat mereka secara institusional jauh berbeda dengan 500 tahun yang lalu. Sama saja dengan gereja-gereja reformasi lain, semangat semper reformanda (selalu membarui) tidak selamanya bertahan, jika tak dipelihara dalam ingatan.

© 2015 GKI Surya Utama
Top
Follow us: