Salah satu unsur dalam liturgi perjamuan adalah pemecahan roti dan penuangan air anggur. Unsur pemecahan roti ini terletak setelah salam damai dan sebelum komuni. Biasanya, Pendeta mempertunjukkan roti dan cawan dari altar sambil berkata: “Roti yang dipecahkan dan cawan minuman adalah persekutuan kita dengan tubuh dan darah Kristus” atau “Roti yang dipecahkan adalah persekutuan kita dengan tubuh Kristus dan cawan minuman adalah persekutuan dengan darah Kristus.” Setelah berkata itu, Pendeta memecahkan roti dan menuangkan cawan anggur di altar. Pada waktu pemecahan itu umat menyanyikan Anakdomba Allah (Agnus Dei), sebagai nyanyian ordinarium.

Walaupun ada dua elemen yang diperlakukan pada saat itu, yaitu roti dan cawan-anggur, namun liturgi umumnya hanya menyebut pemecahan roti. Dalam bahasa liturgi pun, ia disebut unsur fractio (Latin), artinya pemecahan. Liturgi tidak perlu menamakannya pemecahan dan penuangan pada unsur ini. Oleh karena perjamuan adalah perayaan-peringatan Kristus yang hidup, bukan yang mati, maka tubuh dan darah selalu satu. Tanpa menyebut anggur tersendiri setelah roti, maka dipahami bahwa di dalam tubuh Kristus yang hidup telah terkandung darah.

Roti, laksana nasi bagi orang Indonesia masa kini, adalah hidangan yang menandakan hospitalitas. Pemecahan roti adalah tanda pembagian makanan secara merata kepada semua orang. Salah satu bentuk hospitalitas dalam perjamuan seumumnya adalah semua orang mendapat makanan secara cukup dan merata. Tuan rumah terkesan mempermalukan diri apabila ada tamu dalam perjamuan yang tak memperoleh makanan-minuman secara tak merata. Sebelum pemecahan roti umat memanjatkan doa Bapa Kami. Kalimat: “Berilah kami hari ini makanan kami yang secukupnya” itulah yang memberi dasar akan pemecahan roti sebagai pembagian makanan secara merata supaya makanan cukup untuk semua orang. Jadi, pemecahan roti sama sekali bukan tanda pemecahan tubuh Kristus, melainkan tanda pemerataan ketika mengambil, membagi, memberi, dan menerima makanan dalam perjamuan.

Secara konvensional, pemecahan roti dan nyanyian Anakdomba Allah dilanjutkan dengan mendistribusikan roti dan anggur kepada umat. Umat tetap duduk saja, dan menerima saja potongan kecil roti dan cawan kecil anggur. Semuanya dilayani oleh orang lain termasuk Penatua, sedangkan umat hanya diam pasif dan dilayani. Namun, dalam perayaan liturgi modern, distribusi diganti dengan berbagi (sharing) roti dan cawan. Bukan petugas atau Penatua yang membawa makanan-minuman, melainkan umat maju dan berkumpul ke sekitar meja perjamuan atau altar. Kemudian umat sendiri mengambil roti utuh, memotong untuk dirinya, untuk selanjutnya meneruskan membagi dan memberi potongan besar lainnya kepada umat di sebelahnya.

Praktik mengambil, membagi, memberi, dan menerima sendiri roti dan cawan ini telah dilakukan oleh umat Yahudi sejak sebelum abad pertama. Orang Yahudi, dalam perjamuan Paska, melakukan pemecahan roti sebagai tanda mulainya perjamuan. Kemudian, potongan roti yang telah dibelah dua oleh tuan rumah, dibagikan kepada para tamu. Para tamu menerima dan mengambil bagiannya secukupnya untuk kemudian memberikan potongan besar itu kepada tamu di sebelahnya. Cara ini tidak baru dalam sejarah Kekristenan, hanya terhilang dalam sejarah gereja. Kini, cara mengambil, membagi, memberi, dan menerima sendiri roti dan cawan ini kembali mulai diwacanakan oleh gereja dalam khazanah perayaan perjamuan modern. Selain segi berbagi (sharing) makanan-minuman mendapat tekanan, bagian pemecahan roti pun memperoleh pemahaman baru sebagai pemerataan pembagian-penerimaan makanan. ●

© 2015 GKI Surya Utama
Top
Follow us: