Seberapa eksklusif dan seketat apa pun sebuah kelompok, ia memiliki ritus inisiasi. Yang dimaksud ritus inisiasi adalah ritus masuknya atau ritus memasukkan seseorang menjadi anggota baru ke dalam sebuah perkumpulan. Ritus inisiasi inilah yang menunjukkan proses seseorang untuk lulus melewati syarat-syarat atau ujian menurut kelompok tersebut sebelum menjadi anggota penuh dari suatu kelompok.

Bukan hanya institusi atau kelompok masyarakat, gereja juga memiliki ritus inisiasi. Ada tiga tahap ritus inisiasi di beberapa gereja sebelum seseorang dinyatakan sebagai anggota penuh. Tiga tahap inisiasi dalam gereja tersebut adalah: baptis, sidi, dan perjamuan. Baptisan diterimakan setelah seseorang melewati dan lulus katekisasi. Sidi diteguhkan setelah seseorang dibaptis. Perjamuan diterimakan setelah seseorang dinyatakan sidi oleh gereja. Setelah melewati ritus inisiasi, seseorang menjadi anggota penuh gereja tersebut. Ia boleh diterimakan pemberkatan nikah atau terpilih menjadi pejabat gereja.

Di dalam proses ritual itu, terdapat pula ritus-ritus kecil yang dilakukan gereja, semisal: pendaftaran katekisasi, retret katekisan, warta pembaptisan, censura morum Majelis Jemaat, censura morum umat, menyiapkan roti dan cawan, warta perjamuan, dsb. Sebagai ritual, ini berulang (repitisi) dan berjalan ke depan, sebagian ritual menjadi prasyarat dan institusional, namun sebagian ritual merupakan perayaan non-liturgis.

Berangkat dari kasus-kasus tertentu dan tuntutan zaman sepanjang 2000 tahun, beberapa gereja merespons dan memodifikasi ritus-ritus inisiasi tersebut. Sejarah mencatat bahwa anak dipandang perlu menerimakan baptisan secara khusus. Maka pada sekitar abad ke-4, muncullah secara khusus praktik baptisan anak atau bayi pada usia sedini mungkin yang jauh mendahului peneguhan sidi pada waktu akil balig. Beberapa gereja yang menjalankan baptisan anak umumnya memandang bahwa baptisan anak adalah belum sepenuhnya (sidi = sempurna), sehingga belum dapat mengikuti perjamuan kudus. Ia baru boleh mendapat perjamuan kudus setelah lebih dahulu memenuhi seluruh ritus inisiasinya.

GKI berada pada garis tradisi yang menerima baptisan anak dan menganggapnya sebagai ritus belum sempurna hingga peneguhan sidi. Orangtua baptis anak selalu diingatkan akan kewajibannya untuk si anak kelak menyempurnakan baptisannya. Sebagai ritual, inisiasi tersebut berjalan dari satu tahap ke tahap berikut dengan berurutan.

Kasus lain di Indonesia Timur pada sekitar abad ke17, jarangnya jumlah Pendeta dari pusat dan jauhnya lokasi persebaran jemaat-jemaat Kristen di pelosok menyebabkan perjamuan sangat jarang diterimakan dan dirayakan oleh gereja. Akibatnya, orang tidak menerapkan atau lupa akan ajaran Kristen dalam hidup sesehari. Menjelang perjamuan yang belum tentu dilaksanakan setahun sekali itu, Penatua dan Diakon menguji dan mendamaikan jemaat melalui censura morum (pemeriksaan diri) dari rumah ke rumah. Setelah buka dengan nyanyian, Jemaat ditanyakan apakah masih ingat Pengakuan Iman Rasuli, Doa Bapa Kami, atau masih hafal ayat-ayat tertentu dari Alkitab, atau apakah sedang bersengketa dengan tetangga, atau pernah mabuk. Lantas, Penatua atau Diakon pengunjung itu mendoakan. Censura morum, yang isinya pertanyaan dan semacam ibadah kecil di rumah-rumah, inilah yang menjadi penentu seseorang bisa ikut perjamuan atau tidak. Beberapa gereja di Indonesia masih menerapkan sistem censura morum sedemikian ketat ini hingga kini.

Sebagian besar Jemaat GKI lahir pada paruh kedua abad ke-20, praktik censura morum itu telah lama tak dilakukan oleh Gereja-gereja di Indonesia. Baik kepentingan maupun perkembangan zaman menjadikan praktik censura morum berubah. Namun, pengalaman dan tradisi Gereja-gereja itu menandakan pentingnya ritus inisiasi tersebut.

© 2015 GKI Surya Utama
Top
Follow us: