Salah satu aktivitas yang cukup menonjol di GKI adalah bulan keluarga. Aktivitas ini tidak kita jumpai di semua gereja di Indonesia. Asal muasal bulan keluarga adalah keprihatinan akan mulai renggangnya hubungan antar anggota keluarga. Itu terjadi di Eropa dan Amerika. Anak mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkan orang tua mereka. Sementara orang tua mengurus urusannya sendiri, tanpa peduli dengan masalah anak-anaknya setelah lewat usia 17 tahun. Beberapa orang Indonesia yang melihat itu menjadi prihatin. Orang tua Indonesia khawatir bahwa pola ini akan melanda keluarga di Indonesia juga.

Berangkat dari keprihatinan itu, pada sekitar awal tahun 1970-an, Jemaat-jemaat GKI di Jakarta, waktu itu baru ada sekitar 20-an Jemaat, mulai mengadakan perayaan keluarga. Tujuannya adalah agar keluarga Kristen tetap hangat. Setiap anggota keluarga mengalami keindahan hidup di dalamnya. Namanya pada waktu itu adalah Pekan Keluarga. Setiap hari atau malam selama sepekan itu, Jemaat mengadakan bina keluarga, festival musik atau seni, drama, lomba-lomba dan permainan, atau ada juga yang jalan-jalan. Pekan Keluarga, diadakan sekitar bulan September atau Oktober, umumnya dibuka pada ibadah Minggu dan ditutup pada Minggu berikut. Pekan Keluarga terus berlangsung di Jemaat-jemaat GKI.

Sementara, pada dasawarsa 1990-an, pekan keluarga di Jemaat-jemaat GKI mulai dilaksanakan semakin panjang, yakni antara satu hingga dua pekan. Acara selama dua pekan itu tidak sendirinya menjadi semakin banyak, hanya waktunya saja yang semakin panjang. Acara-acara tidak lagi dilakukan setiap hari atau setiap malam. Alasannya, aktivitas umat di luar sepanjang pekan umumnya mulai padat.

Baru pada akhir dasawarsa 1990-an, satu-dua Jemaat mulai memperpanjang lagi pekan keluarga selama sebulan. Namanya pun lambat laun menjadi bulan keluarga, dan lazim hingga kini. Isi acara bulan keluarga pada umumnya masih sama dengan pekan keluarga. Seminar sex, love, and dating, dan bahaya narkoba, tetap relevan hingga kini. Kalau pun berbeda, sifatnya penyesuaian zaman. Misalnya, dulu ada acara sex education, kini Gen X atau Gen Y. Hanya, yang tidak berubah adalah jumlah kegiatan bulan keluarga. Kalau 40 30 tahun yang lalu acara pekan keluarga setiap hari atau malam, kini acara bulan keluarga umumnya hanya setiap Sabtu atau Minggu saja.

Yang seharusnya berubah adalah konsep tentang keluarga. Dulu, keluarga berarti ayah-ibu-anak, tetapi zaman kini tidak selalu begitu. Jumlah orang yang masih sendiri (jomblo), tetap mau sendiri (selibat), orangtua tunggal, pasangan suami-istri (pasutri) sendiri tanpa anak, duda atau janda, semakin banyak di Jemaat. Kehadiran umat yang semacam ini turut meramaikan dan memperkaya kehidupan bergereja. Sehingga sangat tertinggallah pandangan bahwa bulan keluarga hanya untuk suami-istri-anak. Bulan Keluarga adalah festival bagi semua orang, baik suami-istri-anak, maupun mereka yang sendiri atau berdua, atau di luar kategori itu. Bulan keluarga tetap harus memasukkan acara bagi semua kalangan dan beragam status keluarga. Rasanya tak elok, apabila ada banyak orang yang tertolak dari perayaan keluarga karena ketertutupan acara-acaranya.

Berbeda dengan problem keluarga, menurut kita di Indonesia, di Amerika atau Eropa, bulan keluarga di Indonesia bukan soal kerekatan kembali hubungan atau interaksi anggota keluarga. Budaya hidup berkeluarga di Indonesia masih hangat dengan interaksi satu sama lain. Bulan keluarga adalah perayaan atau pesta keluarga, baik keluarga kita maupun keluarga Jemaat.

© 2015 GKI Surya Utama
Top
Follow us: