“Hidup di dunia bisnis itu nggak mudah. Harus pandai-pandai mencari peluang dan cara untuk bisa terus maju, bahkan harus cari “orang dalam” supaya aksesnya lebih mudah. Nanti sering-sering dikasih bingkisan supaya dia mau bantu terus.” Supri termenung ketika mendengar kalimat itu dari rekan bisnisnya. Namun, hatinya berkata lain, kata-kata sang pendeta selalu terucap di sana. Identitas dirinya sebagai seorang Kristen, begitu pula rekannya, mendorong Supri untuk terus bertindak sesuai dengan apa yang diajarkan kepada dirinya sejak ia di Sekolah Minggu. Berbeda dengan Supri, sang rekan terus berpikir bahwa kehidupan di dunia, terutama dunia bisnis, tidak bisa dijalani hanya dengan perkataan dari Alkitab saja, tapi harus juga ditambahkan dengan “bumbu duniawi” untuk bisa bergerak cepat. Memang, kemajuan bisnis Supri tidak ada apa-apanya dibandingkan rekannya itu dan seringkali Supri diremehkan karena itu, namun Supri tetap bersyukur dengan apa yang ada dan bisa dia lakukan saat ini.

Integritas seharusnya memperlihatkan hidup kita yang secara utuh mengarah pada identitas kita sesungguhnya. Secara utuh berarti apa identitas kita, maka yang kita lakukan haruslah sejalan. Ketika kita mengatakan diri kita adalah seorang Kristen, maka perbuatan dan kasih yang ditunjukkan Kristuslah yang kita teladani dan lakukan. Akan tetapi, bagaimana kalau yang terjadi seperti sikap dari rekan kerja Supri? Apakah bisa disebut dia berintegritas sebagai seorang Kristen? Dia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang Kristen, tetapi “bumbu-bumbu duniawi” tetap dia gunakan. Kalau kata orang, dia adalah seorang “Kristen KTP”, mengaku Kristen tapi tidak berbuat seperti seorang Kristen.

Begitu pula ketika kita ingin mengasihi atau berbuat baik kepada seseorang. Sebagai seorang Kristen, melakukan kebaikan atau menyebarkan kasih adalah hal utama yang diperintahkan untuk kita lakukan. Dan Allah yang memerintahkan itu, juga memerintahkan kita untuk tidak memandang bulu. Kita diajar bukan untuk mengasihi hanya orang yang telah menolong kita, atau diharapkan bisa terus menolong kita. Jika demikian, apa bedanya kita dengan para pelaku suap? Kita diajak untuk berbuat baik bahkan kepada mereka yang belum atau tidak kita sadari telah menolong kita.

Mengasihi bukan hanya orang yang sudah berbuat baik kepada kita, apalagi dengan berlebihan. Ketika kita mengistimewakan seseorang karena ia telah melakukan perbuatan yang “istimewa” menurut kita, maka kita mengingkari pernyataan bahwa Allahlah yang melakukannya untuk kita. Kita diajarkan bahwa Allah mengasihi dan memelihara kita bukan hanya lewat satu atau dua orang yang kita istimewakan itu, tetapi dapat melalui siapa saja. Sehingga siapapun yang telah melakukan kebaikan terhadap kita, kita tidak hanya terpaku untuk berbuat baik juga kepada mereka, tetapi tetap bertindak penuh kasih terhadap semua orang.

Integritas kita sebagai seorang Kristen ditunjukkan dalam keseharian kita, bagaimana kita menanggapi rekan bisnis seperti yang dialami Supri, bertindak jujur meski di dalam tekanan, mengasihi dan bertindak adil kepada semua orang, memberikan hak-hak orang yang bekerja di rumah atau perusahaan kita. Apakah itu mudah? Kita semua tahu jawabannya pasti tidak. Godaan-godaan dari luar banyak yang menghampiri, atau bisa jadi dari keluarga kita sendiri, atau dari sahabat kita, dan justru godaan seperti itulah yang seringkali sulit untuk kita tolak. Akan tetapi, bukankah di dalam kesulitan tersebut, kita semakin mengandalkan kekuatan Allah untuk terus berjuang kendati banyak tantangan?

© 2015 GKI Surya Utama
Top
Follow us: