Natal yang kita rayakan pada tanggal 24 dan 25 Desember, dirayakan pada tanggal 6 Januari oleh saudara-saudara kita, kaum Kristen Ortodoks. Sebagai kesinambungan dari tradisi ini, kita juga merayakan hari terakhir dalam rangkaian Natal dalam kisah kedatangan orang Majus menjumpai Yesus di Betlehem. Hari ini disebut juga sebagai hari tiga raja, padahal tidak pernah disebutkan bahwa hanya ada tiga (raja) orang Majus yang datang. Lalu mengapa tiga? Karena persembahan mereka: emas, kemenyan dan mur. Nah, tentang persembahan mereka inilah saya mau bicara soal spiritualitas memberi.

Persembahan yang dibawa oleh orang-orang Majus itu adalah komoditas berharga, yang walau mungkin bagi konteks kita sekarang tidak terlalu penting (kecuali emas). Alangkah menariknya peristiwa ini, orang-orang asing yang dituntun pengamatan mereka atas perbintangan, menempuh perjalanan jauh dengan membawa barang berharga untuk Raja yang tidak mereka kenal sama sekali. Dan tentunya persembahan yang mereka bawa dari jauh bukan hanya segenggam kecil. Bahkan itu yang mungkin menjadi modal Yusuf dan Maria ketika harus mengungsi ke Mesir.

Dari sini saya mau bicara tentang persembahan materi. Ada berbagai rupa persembahan yang bisa kita berikan kepada Tuhan: persembahan tubuh (kekudusan), persembahan waktu (pelayanan), persembahan diri (karakter), dan persembahan materi. Dan kalau kita melihat pada kisah orang Majus yang dikenal dari persembahannya ini, maka persembahan materi bukan hal yang sepele apalagi hina. Namun entah mengapa ada nuansa tabu untuk membicarakan uang di gereja. Hal ini menjadi hal yang sensitif bagi yang berbicara (baca: meminta) dan yang mendengar (baca: dimintai).

Dan sebenarnya, bukan hanya di gereja, topik uang ini menjadi topik yang tabu melebihi agama dan politik. Buktinya orang bisa bicara soal keyakinan agama atau pilihan politiknya tanpa merasa harus menutup-nutupi, sementara di antara saudara sendiri belum tentu bisa leluasa berbicara berapa gaji atau penghasilan seseorang. Mengapa demikian? Salah satunya mungkin karena orang tidak mau dipandang rendah karena berpenghasilan kecil, atau didekati dengan berbagai agenda tersembunyi kalau ketahuan banyak uang. Oprah bercerita bagaimana hidupnya berubah drastis ketika net worth-nya diberitakan majalah, tiba-tiba ia memiliki banyak sekali saudara jauh dan orang berdatangan di pintunya dengan kisah-kisah memelas. Maka tidak heran orang memilih untuk menghindar bicara soal uang.

Padahal, uang itu adalah bagian yang nyata dari kehidupan kita. Bukan berarti kita menilai seseorang berdasarkan uangnya, tetapi integritas seseorang teruji ketika berkaitan dengan uang. Apakah ia akan tetap jujur saat ada godaan uang banyak? Apakah ia akan tetap rendah hati dan hidup bersahaja kalau punya uang? Siapa teman sejati kita saat kita tidak punya uang? Bagaimana orang memperlakukan kita berbeda ketika kita punya uang? Uang bahkan menentukan nasib pernikahan yang dilakukan atas dasar cinta dan ikatan janji suci.

Selain itu, uang adalah saingan terbesar bagi Tuhan! Alkitab berkali-kali memperingatkan manusia, bahwa di mana hartamu berada di situ hatimu juga berada, bahwa manusia tidak dapat mengabdi kepada Tuhan dan uang (mammon), dan bahwa cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan. Karena uang juga, manusia menyalahgunakan doa, bukan sebagai dialog penuh ungkapan syukur kepada Tuhan, tapi rentetan permintaan material.

Oleh karena itu ketika kita belajar dari kisah orang Majus yang memberi persembahan sangat mahal kepada raja yang bahkan mereka belum kenal, hanya berbekal keyakinan mereka, maka kita juga belajar untuk memberi persembahan material sebagai tanda iman kita. Bukan berarti iman diukur dari jumlah persembahan kita, melainkan keikhlasan dan kesungguhan kita dalam memberi itu yang menjadi tanda cinta kita kepada Allah dan keyakinan pada pemeliharaan Allah. Persembahan materi bukanlah penebus dosa kita, tapi kerelaan kita dalam memberi menunjukkan hati yang berbalik kepada Tuhan.

© 2015 GKI Surya Utama
Top
Follow us: