Di awal minggu yang lalu saya berkesempatan mengambil waktu sejenak untuk mengikuti retret mini bagi para pendeta. Pada retret ini kami mengadakan simulasi perayaan Paskah Yahudi, yaitu perjamuan yang dilakukan oleh Yesus dan murid-murid pada malam sebelum Ia ditangkap dan disalibkan. Ada banyak simbol yang digunakan dan dijelaskan maknanya. Misalnya sayur pahit yang dicelupkan ke air garam, merupakan simbol kepahitan hidup bangsa Israel di bawah penindasan bangsa Mesir dan air mata yang menjadi makanan mereka sesehari. Dan masih ada banyak lagi simbol lainnya, seperti roti tak beragi, daging domba, anggur, lilin, dan sebagainya. Demikian juga berbagai bacaan dan litani bersahutan yang diucapkan selama perjamuan tersebut.

Salah satu litani yang menyentuh bagi saya adalah seruan pujian Dayenu! yang berarti cukuplah. Bacaan bersahutan di mana pertama pemimpin menyampaikan suatu pengandaian dan umat menjawab cukuplah, berbunyi demikian:

Jika Dia membawa kita keluar dari Mesir dan tidak menghakimi mereka. Cukuplah!

Jika Dia menghakimi mereka tetapi tidak berhala mereka. Cukuplah!

Jika Dia menghakimi berhala mereka dan tidak mengambil nyawa anak sulung mereka. Cukuplah!

Jika Dia mengambil nyawa anak sulung mereka dan tidak memberi kita harta mereka. Cukuplah!

Jika Dia memberi kita harta mereka dan tidak membelah laut bagi kita. Cukuplah!

Jika Dia membelah laut bagi kita dan tidak membawa kita sampai ke dataran kering. Cukuplah!

Jika Dia membawa kita ke dataran kering dan tidak menenggelamkan para penindas kita. Cukuplah!

Jika Dia menenggelamkan para penindas kita dan tidak menolong kita selama 40 tahun di padang gurun. Cukuplah!

Jika Dia menolong kita selama 40 tahun di padang gurun dan tidak memberi kita manna. Cukuplah!

Jika Dia memberi kita manna dan tidak memberi kita hari Sabat. Cukuplah!

Jika Dia memberi kita hari Sabat dan tidak membawa kita ke Gunung Sinai. Cukuplah!

Jika Dia membawa kita ke Gunung Sinai dan tidak memberi kita Taurat. Cukuplah!

Jika Dia memberi kita Taurat dan tidak membawa kita ke tanah Israel. Cukuplah!

Jika Dia membawa kita ke tanah Israel dan tidak memberi kita Bait Kudus. Cukuplah!

(Lalu diberi keterangan bahwa sebagai umat Kristen kita dapat menambahkan sendiri karya penyelamatan Allah sampai pada karya penebusan Kristus dan bahkan seterusnya).

Pertama-tama saya merasa terganggu dengan seruan tersebut, kebetulan saya mendapat tugas membaca bagian pemimpin. Apa maksudnya? Tapi perlahan-lahan saya mulai paham. Seruan ini merupakan suatu sikap iman yang penuh dengan rasa syukur dan kerendahan hati. Seandainya Tuhan menolong hanya sampai di sini, itu pun cukup dan terpujilah nama Tuhan. Demikian pesannya.

Terkadang saya mendapati pertanyaan seperti ini misalnya, Mengapa ia dipanggil Tuhan semuda itu? atau Mengapa Tuhan memanggil pulang suami/istri/orang tua saya sekarang? Lalu diikuti dengan pertanyaan seperti ini, Mengapa tidak nanti kalau anak-anak sudah besar? Namun bukankah jika anak-anak sudah besar akan muncul pertanyaan lain seperti Mengapa tidak nanti kalau anak-anak sudah menikah?, yang juga bisa diikuti dengan pertanyaan Mengapa tidak nanti kalau sudah merasakan menggendong cucu? Dan seterusnya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa diganti dengan pertanyaan lain seperti , Mengapa Tuhan membiarkan usaha saya bangkrut? yang artinya usaha itu pernah berjalan dan berhasil, tapi saat ini tidak lagi. Inti dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah mempertanyakan Tuhan mengapa hanya sampai di sini menolong saya? Mengapa hanya sampai di sini memberkati saya dengan keberhasilan, dengan kesehatan, dengan kehidupan? Mengapa tidak diteruskan dan ditambahkan? Pertanyaan tersebut juga menyiratkan suatu pertanyaan lain: mengapa hal yang tidak menyenangkan ini terjadi pada saya?, karena kita mungkin tidak terlalu bertanya-tanya kepada Tuhan ketika ada anak di daerah miskin yang mati kelaparan di usia lima tahun.

Ucapan dayenu! ini mengajak kita untuk belajar bahwa sekalipun Tuhan hanya menolong sampai di sini, itu pun sudah cukup. Walau tentu kita juga melihat dan mengimani bahwa Tuhan tidak pernah berhenti bekerja, tidak pernah meninggalkan kita walau dalam keadaan sulit. Yang perlu kita lakukan adalah bersyukur dalam keadaan apa pun, dan bersikap rendah hati dalam segala kondisi menyadari bahwa hidup sepenuhnya adalah pertolongan dan kemurahan Tuhan.

© 2015 GKI Surya Utama
Top
Follow us: