03_March_4th

Ada seekor siput yang selalu memandang sinis terhadap katak. Katak menjadi kehilangan kesabaran dan berkata kepada siput, “Hai siput, apakah saya telah melakukan kesalahan sehingga kamu begitu membenci saya?”

Siput menjawab, “Kalian kaum katak mempunyai empat kaki dan bisa melompat ke sana ke mari, tapi saya mesti membawa cangkang yang berat ini, merangkak di tanah, jadi saya merasa sangat sedih.”

“Ah, kamu cuma memperhatikan kegembiraan saya, tetapi kamu tidak melihat penderitaan saya.”

Tiba-tiba, seekor elang besar terbang ke arah mereka. Siput dengan cepat memasukan badannya ke dalam cangkang, sedangkan katak dimangsa oleh elang. Akhirnya siput menyadari bahwa cangkang yang dimilikinya bukan merupakan beban, melainkan kelebihannya.

***

Sering kali kita menjadi seperti siput dan katak dalam cerita di atas. Kita tidak mampu menikmati apa yang ada pada diri kita dan mengucap syukur atasnya. Selalu ada yang kurang dari diri kita dan selalu ada yang lebih dari orang lain.

Beberapa contoh bisa kita jumpai dalam percakapan sehari-hari, misalnya:

“Waah enak sekali kamu! Karena kenaikan UMP, kamu baru masuk kerja tapi gajimu sudah sama dengan saya yang sudah bertahun-tahun kerja di sini.”

“Bahagia sekali dia punya lima buah rumah yang besar. Rumah saya cuma satu. Itu pun tidak besar, hanya seluas seribu meter persegi.”

“Ternyata smartphone saya sudah ketinggalan zaman. Iphone 8 sudah keluar, padahal Iphone saya masih versi 7.”

Di dalam kehidupan bergereja pun kita bisa menjumpai percakapan-percakapan seperti percakapan siput dan katak tersebut. Misalnya:

“Ibadah di gereja ini kurang bersemangat, tidak seperti di gereja itu.”

“Pelayanan di gereja ini kurang dipersiapkan dengan baik, tidak seperti ketika saya jadi pengurus beberapa tahun yang lalu.”

“Jemaat di gereja ini kurang ramah, kalau di gereja itu saya disambut dengan baik.”

Kata kurang yang diucapkan seseorang tidak hanya menunjuk pada jumlah. Di baliknya ada spiritualitas yang melekat pada orang yang sering mengucapkannya. Spiritualitas “kurang” membuat kita tidak mampu menerima apa yang ada, yang telah kita miliki, lihat, rasakan, dan alami. Spiritualitas kurang juga bisa membuat kita merasa iri kepada orang lain.

Jumlah adalah netral. Yang tidak netral adalah penilaian dan pemaknaan kita akan jumlah tersebut. Misalnya, angka lima (5) adalah netral. Namun, ia bisa dinilai dengan kurang, cukup, lebih. Bagi sebagian orang memiliki lima buah rumah dirasakan masih kurang. Bagi sebagian lain, dirasakan terlalu berlebihan. Dan bagi yang lain lagi, dirasakan cukup. Semua itu tergantung pada siapa yang menilai dan dengan spiritualitas apa ia dinilai.

Maka, untuk bisa menikmati hidup kita membutuhkan spiritualitas “cukup”. Cukup berarti kita telah menerima dan merasa puas dengan apa yang ada. Cukup membuat kita merasa tidak perlu meraih sebanyak-banyaknya, bahkan sampai mengorbankan orang lain. Kata cukup akan membuat kita mampu mengucap syukur atas anugerah Tuhan di dalam hidup kita.

Namun, cukup tidak berarti kita berhenti bekerja dan berkarya. Cukup tidak berarti kita melakukan sesuatu tanpa bertanggung jawab atau asal-asalan. Cukup tidak berarti membuat kita menjadi malas dan mengendorkan upaya yang kita lakukan.

Nikmati dan pakailah apa yang ada, yang kita miliki, untuk hidup hari ini dengan rasa cukup dan penuh ungkapan syukur.

© 2015 GKI Surya Utama
Top
Follow us: