Salah satu pesan atau konsep utama dari masa Adven adalah bahwa kita hidup dalam suatu penantian, yaitu penantian akan kedatangan Tuhan kembali untuk menghakimi seluruh manusia yang pernah hidup di muka bumi dan memulihkan dunia. Jika ditarik ke kehidupan sesehari, maka seluruh kehidupan kita di muka bumi adalah masa penantian akan suatu akhir: yang kita isi dengan mengupayakan pengharapan, cinta kasih, pertobatan, sukacita, damai dan keselamatan bagi semua yang kita jumpai. Rick Warren dalam bukunya yang terkenal, Purpose Driven Life, mengatakan bahwa hidup di dunia adalah suatu masa persiapan untuk hidup yang sesungguhnya dalam keabadian nanti.

Mengingat bahwa tahun gerejawi diawali dengan masa Adven, maka tentunya konsep ini menjadi penting. Konsep bahwa hidup ini adalah sementara dan harus dijadikan suatu persiapan diri. Tanpa memegang konsep ini, maka hal-hal lainnya dalam rangkaian hari gerejawi maupun pengajaran Kristen menjadi tidak berlaku. Lebih tepatnya tanpa menjiwai semangat Adven ini maka kita tidak dapat menghidupi konsep kesementaraan hidup di dunia dan adanya hidup yang kekal nanti.

Jika dibandingkan dengan cara pandang (worldview) ateistik misalnya, konsep Adven sama sekali tidak berlaku. Bagi kaum ateis, hidup hanya ada dalam bentuk sekarang ini di dunia. Sesudah mati, manusia sama seperti makhluk hidup lainnya akan membusuk dan terurai, dan kembali menjadi bagian dari tanah dan elemen lainnya. Maka tidak tepat untuk melihat hidup sebagai penantian akan Tuhan yang akan datang atau pun melihatnya sebagai sarana persiapan untuk hidup yang kekal.

Bagi saya hal ini menarik, karena sekali lagi Adven adalah masa yang mengawali tahun gerejawi, yang artinya kehidupan beragama diawali dengan suatu keyakinan akan adanya dunia yang akan datang atau kehidupan sesudah kematian.

Sementara salah satu kritik terhadap kaum beragama adalah bahwa mereka ini menjalani hidup dengan dibayangi kematian. Atau dengan kalimat yang lebih sederhana, orang beragama karena ingin masuk surga atau takut masuk neraka. Sikap ini dikritik sebagai mentalitas ternak (siap diiring ke sana sini tanpa berpikir sendiri) atau mentalitas budak (hidup dalam ketakutan). Sampai di sini saya masih sepakat, saya pun tidak menganjurkan orang beragama tanpa daya nalar atau hidup bermoral karena pamrih berkat atau takut hukuman Tuhan.

Namun ada lanjutan dari kritik tersebut bahwa agama menghalangi orang untuk menikmati atau menjalani hidup di dunia saat ini, karena pikirannya terkunci di masa yang akan datang itu. Di sini saya tidak lagi sepaham. Benar bahwa ada sebagian orang yang karena agamanya rela mengorbankan hidup di masa kini demi imbalan surgawi, tapi itu akibat salah memahami ajaran agamanya.

Kekristenan setidaknya, dalam hal konsep hidup sebagai penantian, tidak mengajarkan kita untuk mengabaikan hidup masa kini demi surga. Sebaliknya, kehidupan saat ini harus dijalani sebaik-baiknya, dinikmati dengan penuh syukur, tapi juga tidak perlu tegang dan terlalu serius karena ini bukan satu-satunya hidup yang dianugerahkan pada kita. Kalau di dunia sekarang kita gagal, ya sudah. Itu bukan satu-satunya makna dalam hidup. Banyak orang yang tidak percaya pada kehidupan yang kekal melihat hidup di dunia sebagai satu-satunya kesempatan sehingga menjadi sangat serius dan menaruh seluruh pengharapannya pada hidup sekarang ini. Akibatnya kegagalan dapat mengakibatkan ia kehilangan makna.

Memang ada juga orang (beragama) yang berlaku terlalu serius, karena melihat hidup sekarang bisa menentukan penghukuman abadi, maka ia menjadi terlalu takut dan tegang. Di sinilah kita perlu mengingat bahwa masa Adven masih terus berlanjut, yaitu dengan anugerah keselamatan yang hadir dalam diri Yesus, Allah yang berinkarnasi. Maka hidup saat ini di dunia kita jalani dan nikmati sebaik-baiknya, dengan keyakinan bahwa Allah yang mengasihi kita tidak menginginkan kebinasaan kita, melainkan keselamatan.

© 2015 GKI Surya Utama
Top
Follow us: